Algoritma mempengaruhi bagaimana kita menggunakan internet. Para ahli SEO (Search Engine Optimization) terus berusaha untuk mengerti algoritma Google. Sementara algoritma Facebook merupakan alasan dibalik kesuksesan mereka saat ini.
Tahun ini, ada dua media sosial lain yang mulai mengimplementasikan algoritma dalam jejaring sosialnya. Kedua media sosial tersebut adalah Instagram dan Twitter.
Instagram yang dimiliki Facebook, beberapa waktu lalu mengumumkan bahwa mereka sedang menguji algoritma untuk mengatur beranda pengguna. Hal ini berarti, pengguna tidak lagi melihat foto-foto yang ada di beranda berdasarkan urutan waktu foto diunggah.
Sementara itu, Twitter juga telah memperkenalkan penggunaan beranda yang didasarkan pada algoritma. Orang-orang yang sering menggunakan Instagram dan Twitter memprotes keputusan kedua perusahaan tersebut. Meskipun begitu, Instagram dan Twitter membela diri dengan menyebutkan bahwa banyaknya konten yang ada berarti pengguna tidak akan dapat melihat semua konten tersebut.
Menurut Contently, alasan kedua media sosial tersebut adalah alasan yang masuk akal. Beberapa tahun belakangan, Instagram telah tumbuh dengan cukup pesat. Pengguna yang sering membuka Instagram selama berjam-jam mungkin akan sangat senang dengan perubahan ini.
Di Twitter sendiri, pengguna baru biasanya dibuat bingung dengan banyaknya tweet yang muncul di beranda mereka setiap menit.
Para ahli juga menyebutkan, algoritma dapat membuat para pengguna kasual terus menggunakan sebuah media sosial. Di situs The New Inquiry, seorang blogger teknologi Rob Horning menyebutkan bahwa algoritma adalah hal yang membuat jejaring sosial menyenangkan untuk digunakan.
"Ketika algoritma mengelompokkan kita berdasarkan apa yang kita lihat dan apa yang ditampilkan pada kita, ia membuat kita menjadi sebuah produk yang dapat kita konsumsi," tulis Horning. "Kita merasa senang saat Facebook mengelompokkan kita, membuat kita merasa dikenal. Dan ketika Facebook gagal, kita merasa senang karena hal itu menunjukkan bahwa kita adalah pribadi yang kompleks."
Sejak Facebook mulai menggunakan algoritma, mereka telah tumbuh pesat. Dan hal ini mendukung teori Horning. Hingga saat ini, Facebook merupakan media sosial dengan durasi penggunaan yang paling lama diantara generasi milenial.
Alasan lain mengapa media sosial lain mulai mengadopsi algoritma adalah karena ia efektif untuk melakukan monetisasi. Hal ini terbukti saat pendapatan Facebook yang meningkat begitu mereka mulai mulai menampilkan beranda yang didasarkan pada algoritma di tahun 2009.
Selain itu, penggunaan algoritma mengurangi pertumbuhan trafik organik pengiklan. Sehingga mereka tidak lagi dapat mengunggah artikel sebanyak-banyaknya dengan harapan akan semakin banyak orang yang melihat konten yang mereka unggah. Sebagai gantinya, mereka harus membeli konten berbayar jika mereka ingin orang-orang melihat konten mereka.
Setelah Facebook mulai menggunakan algoritma, trafik organik untuk pengiklan berkurang dari 12 persen di tahun 2013 menjadi 6 persen di 2014. Sejak saat itu, Facebook terus mengubah algoritma yang mereka gunakan. Dan hal ini membuat trafik organik terus turun.
Terlihat jelas bahwa Facebook melihat algoritma sebagai kunci untuk memonetisasi Instagram yang saat ini tumbuh pesat. eMarketer memprediksi bahwa Instagram akan memiliki penghasilan yang besar dari iklan dalam waktu beberapa tahun ke depan.